ipl15

Termin Berburu Sedang Jadi Mainan Kanak-kanak-kanak-kanak Zaman Lalu – Jernih.co

Yang paling disukai merupakan persimpangan balok sonokeling, yang kecuali tegak, pula dominan liat digunakan berabad-abad.   Selain sonokeling, yg juga bagus lalu meluap dipilih  adalah balok lemo, yg kabarnya dari sakaol (dongeng lama) menghindarkan pembawanya berawal agresi ular.

JERNIH–‘Permainan’ kids era old yg niscaya hanya dikit sangat bisa dimainkan budak-anak masa now—bahkan pada kota Kecamatan Kadipaten, Maja-lengka– merupakan berburu. Sebenarnya denyut itu kendati bukanlah permainan kanak-kanak mungil, saja sekiranya sekelas menempel, jarang luar biasa awak tidak boleh.

Lokasi perburuan yang paling suka-suka jadi destinasi—lantaran jaraknya tak lebih berawal 3 kilometer, ialah Gunung Kancana.Sebenarnya tidaklah benar diklaim gunung. Karena detik saya cilik pun, pada usia alang bermula 12 musim, mendaki petak itu sampai ke puncaknya tidak membutuhkan periode lebih bermula 30 mnt. Lebih benar disebut bukit, ataupun pasir berisi cakap Sunda.

Darmawan Sepriyossa

Letaknya persis pada perbatasan Kabupaten Sumedang dan Majalengka, terkandung ke berarti (maksud) daerah Desa Marongge. Desa Marongge adalah kampung cilik yang saat itu terkemuka ke seantero Jawa Barat, tertinggi jatah para lelaki pecundang yg demen berdukun selaku tumpuan menelusuri teman hidup.   

Gunung Kancana sebetulnya sejenis bukit padas dengan sedikit tingkatan petak fertile di permukaannya. Jenis padasnya tergolong unik, lebih kaku dari kapling lempung, melainkan penuh lembutditatah lalu dibuat selaku patung. Jenis padas ini pada Kadipaten diklaim kerikil kasungka. Karenanya bukan takjub andai di lereng-lereng perbukitan itu layak melimpah pengrajin patung alias penghasil nisan beraksi. Entah sederajatmenjadikan baterai padas, ataupun langsung mewujudkan  patung pada sana lagi cipta dangau-dangauberteduh, dibawa mudik ke kurungan berbobot bentuk jadi. Yang aku peduli, almarhum Pak Atek, pemimpin wayang golek bersama-sama pengrajin wayang golek dengan patung di kampung perbatasan, Kampung Omas, tempo-tempo sekali terlihat tengah memahat patung wayang, manakala saya dompleng berburu detak itu.

Setiap batang air berburu, pasti aku ikut Mang Otong, paman saya pada, partai mak. Selain mengail, kesukaan Mang Otong denyut itu baiklah berburu babi. Anjing-anjing peliharaannya di sangkar nenek pada Omas, layak berjibun. Anjing-anjing dukuh, yg pun cilik, namun pemberanidan ulet . Saya sempat memeriksa seekor anjing dusun milik Mang Otong, tetap menjaga geliginya yg intim menggigit punggung celeng, sementara lambungnya sudah berleleran bakat, bocor dihajar taring babi itu.

Saat itu tidak terdapat seseorang meski yg membawa senapan badai. Senapan terdampar yg dipompa masih harta banter. Biasanya, bila walau terdapat, hanya tombak kuno harta kakek-kakek buyut masing-masing. Paling bagus sama sekali jamparing (anak panah) serta gondewa (busur).

Saya sedang peduli busur yg dibawa sering Mang Otong itu membayang telah kedaluwarsa. Busurnya berbahan awi tebal, dan tali pada, nilon. Pada bagian pendirian busur dilapis lagi kulit lembu yang dijahit kuat. Kebanyakan sih ajak ketapel berpeluru halter bundaryg bisa lalu mudah ‘diambil’ sejak sanggar gula Kadipaten.

Yang niscaya, seluruh meminta bedog (bongak), tercatat anak mungil seperti aku yang jua nyoren bedog Cepot. Bedog mampu dan gampang digunakan memangkas, fungsi membentuk tombak biasa, dari persimpangan balok maupun walau bambu. Yang amat disukai ialah batang kayu sonokeling, yg kecuali vertikal, juga kuat liat dipakai beratus-ratus tahun.   Selain sonokeling, yg jua baik lalu melimpah dipilih  adalah kayu lemo, yang kabarnya berdasarkan sakaol (karangan termin) menghindarkan pembawanya berawal agresi ular.

Buruan aku momen itu tidak tentu, dan bukan sempat juga mengkhususkan pribadi hanya mencari hewan terpilih pada hutan cilik pada sejumlah Gunung Kancana. Yang paling sebagai sasaran tentu saja celeng. Dagingnya dengan gampang bisa dijual kepada orang-diri keturunan Cina di Pecinan Kadipaten, maupun amat jauh ke Jatiwangi, dan bea tidak mengecewakan. Tentu hanya masih jauh di bawah imbalan daging kering kibas. Dijual menyeluruh, beserta ditaksir hanya.

Tetapi biasanya si babi telah tidak bertaring, lantaran taringnya mau kami renggut. Saat sedang SD, saya pernah diberi Mang Otong sebuah kalung berawal komposisi sutra hitam lalu ‘liontin’ sebatang taring babi. “Kop jang maneh, Sep. Kangkalung sihung bagong,” pungkasnya saat mengalungkannya ke leher aku. “Nih buatmu, Sep. Kalung taring babi.” Di lingkaran fans klenik Sunda, sihung bagong yg sudah pernah dijampe-parancah diyakini memiliki kuasa terbatas (sich!). Sempat saya gunakan ke sekolah sekitar periode, pagi buta malu karena terbongkar guru.

Tetapi adakalanya tak babi yang aku temui, kendati maksud awalnya benar memburu si perusak kebun itu. Jika detak menyeberang bengawan mungil—entah lebih tepat diklaim selokan, beserta ada biawak Slot Gacor membayang, sanggup dipastikan biawak itu menjadi tangkapan yang dibawa ke desa. Dagingnya akan direcah (dibagi) beramai-dahsyat, temporer kulitnya sanding bisa dipastikan menjadi properti Mang Otong. Kulit itu hendak diregang lalu dikeringkan, dini entah dijual. Yang pasti, sesudah kering lalu deras dia mau hilang. Tentu karena dijual.

Beberapa batang air pula pernah mendapatkan simpanse, lutung ataupun owa. Tak terhitung bilamana careuh (tanak), ganggarangan, peusing (trenggiling), unggas hahayaman, bangau atau punpuyuh. Semuanya tidak pernah luput dari perut beta yang sungguh seluruh berawal varietas hewan pemakan daging dan tumbuh-tumbuhan asli, atau pemangsa semua wajah. Tetapi yang paling membentuk saya saat itu demen, bila aku menemukan meong congkok.

Binatang itu artinya penyebutan Sunda untuk kucing hutan. Bulunya keren, cokelat bertotol-totol hitam laiknya macan tutul atau leopard. Berbeda mulai kucing rumah, meong congkok lazimnya terkesan ganas dengan gayanya kuat. Lantaran meong congkok hewan petang (nocturnal) yang memakan mulai dari bengkarung, tikus, burung, bajing, serangga, kodok, kelinci liar, kancil, apalagi ular, beliau seringkali kami membekuk detik mampu pada sarangnya.

Oh setuju, yang melahirkan kids masa now kendati bukan mampu beserta melakukan babak yg jadi kecenderungan kami detik itu, sanksi untuk pemburu meong congkok yg kininyaris musnah meski sungguh miring: penjara 5 tahun lagi ataupun denda Rp 100 juta. Lihat, dengan jalan apa lebih pertalian berdiam pada periode lampau, tidak? [dsy]